
Keterangan Gambar : Kak Adhip sedang mendongeng di Masjid Daarul Ittihad, bikin anak yatim menangis tersedu (foto aboe)
"Dodo tidak segera masuk sorga, ia justru duduk menunggu di depan pintu karena belum melihat kedua orang tuanya berada di dalam. Kerinduan kepada ayah dan ibunya membuat Dodo enggan menikmati seluruh kenikmatan surga seorang diri."
Bekasi, edukasinews.com- Gelak tawa, haru, dan isak tangis mewarnai kegiatan Muharam Ceria 1448 H yang diselenggarakan Majelis Taklim Daarul Ittihad, Komplek Perumahan Jatisari Permai, Kota Bekasi, Ahad (26/7/2026). Meski kalender Hijriah telah memasuki bulan Safar, semangat berbagi kepada anak-anak yatim tetap terasa hangat melalui santunan kepada 61 anak yatim dan penampilan dongeng inspiratif dari pendongeng sekaligus motivator nasional, Kak Adhip.
Di hadapan sekitar seratus jamaah dan tamu undangan, Kak Adhip membawakan kisah menyentuh tentang seorang anak saleh bernama Dodo yang sangat merindukan ayahnya. Cerita sederhana itu berhasil menggugah hati para hadirin, terutama anak-anak yatim yang memenuhi ruangan.
Dalam dongengnya, Dodo digambarkan sebagai anak yang selalu menjalankan segala perintah Allah SWT. Bukan karena mengharapkan harta atau kedudukan, melainkan karena memiliki satu cita-cita besar, yakni dapat bertemu kembali dengan ayahnya di surga.
Kak Adhip kemudian mengajak anak-anak membayangkan suasana Hari Kiamat, ketika seluruh manusia dibangkitkan dan dikumpulkan di Padang Mahsyar untuk menerima catatan amal masing-masing.
Karena semasa hidupnya rajin beribadah dan berbuat baik, Dodo memperoleh begitu banyak catatan amal saleh. Dengan izin Allah, ia mampu melewati Jembatan Siratal Mustaqim yang digambarkan sangat tipis, bahkan diibaratkan lebih halus daripada sehelai rambut yang dibelah tujuh.
Setelah berhasil melewati jembatan tersebut, Dodo memasuki surga. Ia menyaksikan taman-taman indah, sungai-sungai yang mengalir, serta sebuah istana megah yang telah disediakan untuknya. Namun, Dodo tidak segera memasuki istana itu.
Ia justru duduk menunggu di depan pintu surga karena belum melihat kedua orang tuanya berada di dalam. Kerinduan kepada ayah dan ibunya membuat Dodo enggan menikmati seluruh kenikmatan surga seorang diri.
Melalui doa dan permohonan anak yang saleh itu, Allah SWT akhirnya mempertemukan kembali Dodo dengan kedua orang tuanya. Mereka pun dipersilakan masuk surga bersama-sama. Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa kesalehan seorang anak tidak hanya menjadi bekal bagi dirinya sendiri, tetapi juga dapat menjadi jalan kebahagiaan bagi kedua orang tuanya.
Dongeng penuh makna itu mendapat sambutan hangat dari para peserta. Banyak anak tampak larut dalam cerita, sementara sejumlah orang tua dan jamaah terlihat meneteskan air mata ketika Kak Adhip menyampaikan pesan tentang bakti kepada orang tua, kasih sayang keluarga, serta pentingnya menjadi anak yang saleh.
Usai sesi dongeng, Lurah Jatisari Muhidin Assegaf ikut menyerahkan santunan secara simbolis kepada anak-anak yatim. Masing-masing anak menerima uang tunai sebesar Rp500.000, serta paket berisi mukena bagi anak perempuan, sarung bagi anak laki-laki, Al-Qur'an, makanan ringan, dan sembako.
Ketua Panitia Sri Supartini, didampingi Sekretaris Ary Mugiasih, menjelaskan bahwa kegiatan Muharam Ceria tahun ini berhasil menghimpun dana lebih dari Rp68 juta. Dana tersebut berasal dari donasi warga Perumahan Jatisari Permai, khususnya RW 15, para dermawan, serta bantuan paket dari Wali Kota Bekasi.
"Alhamdulillah, berkat kebersamaan warga dan para donatur, kegiatan santunan untuk anak-anak yatim dapat kembali terlaksana dengan baik. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan," ujar Sri Supartini dan Ary Mugiasih.
Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an, kemudian dilanjutkan sambutan dari Ketua DKM Daarul Ittihad yang diwakili Ustaz Ahmad Musodiq, Ketua RW 15 Zainudin, M.Pd., serta Lurah Jatisari Muhidin Assegaf.
Dalam sambutannya, Muhidin Assegaf menyampaikan apresiasi atas kepedulian Majelis Taklim Daarul Ittihad yang secara konsisten menyelenggarakan santunan bagi anak-anak yatim.
"Orang kaya di Indonesia banyak. Orang pintar di Indonesia banyak. Orang hebat di Indonesia banyak. Yang kurang adalah orang-orang yang peduli kepada sesama, terutama peduli kepada anak yatim," ujarnya.
Menurut Muhidin, kepedulian yang ditunjukkan warga Jatisari Permai merupakan contoh nyata bahwa kebersamaan dan gotong royong masih menjadi kekuatan utama masyarakat Indonesia. Ia berharap kegiatan serupa terus berlanjut dan menginspirasi lingkungan lainnya.
Selain santunan, panitia juga membagikan ratusan doorprize kepada jamaah dan tamu undangan. Melalui Muharam Ceria 1448 H, Majelis Taklim Daarul Ittihad tidak hanya menghadirkan kebahagiaan bagi anak-anak yatim melalui bantuan materi, tetapi juga menanamkan nilai keimanan dan bakti kepada orang tua melalui kisah inspiratif Dodo yang dibawakan Kak Adhip. Pesan itulah yang menjadi ruh utama kegiatan: bahwa anak saleh adalah investasi terbaik bagi keluarga, bahkan hingga kehidupan di akhirat.***(edu/aboe)








LEAVE A REPLY