Home Artikel Populer SAAT ANAK PEREMPUAN KEHILANGAN ARAH

SAAT ANAK PEREMPUAN KEHILANGAN ARAH

Penulis : Diana Bakti Siregar, S.Si (Ade Diana)      

31
0
SHARE
SAAT ANAK PEREMPUAN KEHILANGAN ARAH

Keterangan Gambar : ilustrasi: diana

Di sebuah ruang obrolan sederhana, saya bertemu beberapa remaja putri usia sekolah menengah. Wajah mereka cerah, tawa mereka renyah, masa depan seharusnya masih panjang. Namun sebagian dari mereka berkata ringan, seolah tanpa beban:

“Buat apa sekolah tinggi? Nanti juga ujung-ujungnya di rumah.”

Kalimat itu singkat. Tapi gema di belakangnya panjang.

Ia menyimpan cara pandang yang perlu kita cermati bersama: ketika pendidikan dianggap tak penting, ketika belajar dipandang sekadar formalitas, ketika mimpi dikecilkan bahkan sebelum tumbuh.

Di saat yang sama, publik juga menyaksikan berbagai peristiwa di lingkungan sekolah yang memprihatinkan. Ada murid yang tak menghormati guru. Ada ruang belajar yang kehilangan wibawa. Ada relasi antara pendidik dan peserta didik yang retak oleh emosi sesaat.

Ini bukan semata soal disiplin. Ini soal arah.

Pendidikan Bukan Sekadar Ijazah

Banyak orang masih melihat sekolah sebatas jalan menuju pekerjaan. Jika tidak bekerja di kantor, maka sekolah dianggap tak terlalu perlu. Padahal pendidikan jauh lebih luas daripada itu.

Pendidikan adalah kemampuan berpikir jernih.
Kemampuan membedakan benar dan salah.
Kemampuan mengelola emosi.
Kemampuan mengambil keputusan.
Kemampuan bertahan menghadapi hidup.

Bagi anak perempuan, pendidikan bahkan memiliki dampak berlapis. Ketika seorang perempuan bertumbuh dengan ilmu, maka rumah yang kelak ia bangun berpotensi tumbuh lebih sehat, lebih sadar gizi, lebih peduli tumbuh kembang anak, dan lebih siap menghadapi perubahan zaman.

Teladan Perempuan yang Membuka Jalan

Sejarah Indonesia mengenal banyak perempuan yang tak menunggu keadaan ideal untuk maju.

Kartini menulis gagasan besar tentang pentingnya pendidikan perempuan di tengah keterbatasan zamannya. Surat-suratnya kemudian menginspirasi perubahan sosial.

Dewi Sartika mendirikan sekolah bagi perempuan ketika akses belajar belum mudah.

Cut Nyak Dhien menunjukkan bahwa keberanian dan kepemimpinan bukan monopoli laki-laki.

Mereka datang dari masa yang jauh lebih sulit daripada hari ini. Tetapi justru karena itulah mereka memilih belajar, bergerak, dan memberi manfaat.

Tantangan Generasi Sekarang

Generasi muda saat ini hidup di era yang berbeda. Informasi datang cepat, perhatian mudah terpecah, dan ukuran keberhasilan sering direduksi menjadi popularitas sesaat.

Di sinilah sekolah, keluarga, dan masyarakat perlu hadir dengan pendekatan baru. Bukan hanya memerintah, tetapi mendampingi. Bukan hanya menuntut nilai, tetapi menumbuhkan makna belajar.

Anak perempuan perlu diyakinkan bahwa masa depan mereka tidak ditentukan stereotip lama.

Mereka bisa menjadi guru.
Bisa menjadi pengusaha.
Bisa menjadi peneliti.
Bisa menjadi seniman.
Bisa menjadi ibu rumah tangga yang cerdas dan berdaya.
Bisa memilih banyak jalan hidup dengan bekal ilmu.

Yang Perlu Kita Bangun

Ada tiga hal yang tampaknya mendesak.

Pertama, mengembalikan hormat kepada guru dan ruang belajar. Sekolah tidak akan tumbuh jika wibawa pendidikan runtuh.

Kedua, memperluas mimpi anak perempuan. Jangan biarkan mereka merasa kecil sebelum mencoba.

Ketiga, menghadirkan contoh nyata. Anak-anak lebih mudah percaya pada teladan daripada ceramah panjang.

Masa Depan Ditentukan Hari Ini

Bangsa yang ingin maju tak cukup membangun gedung sekolah. Ia juga harus membangun keyakinan bahwa belajar itu berharga.

Dan ketika anak perempuan percaya pada nilainya sendiri, lalu diberi kesempatan berkembang, hasilnya sering melampaui dugaan.

Mereka bukan sekadar bagian dari masa depan.

Mereka adalah penulis utama masa depan itu sendiri.                                                                                     .                                                                                                                                                                                                                                          * Penulis adalah  Praktisi Talents Mappiang