Home Info Kampus Dari Wisuda ke 58 UMN: Keterbukaan Bukan Barang Baru

Dari Wisuda ke 58 UMN: Keterbukaan Bukan Barang Baru

Telah dimulai sejak berdiri

21
0
SHARE
Dari Wisuda ke 58 UMN:  Keterbukaan Bukan Barang Baru

Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al Washliyah menggelar Wisuda Sarjana, Profesi, dan Magister Angkatan ke-LVIII di Medan, Sabtu (31/10/2026). Diantara 983 wisudawan terdapat empat biarawati

Keberagaman di UMN Al Washliyah bukan hal baru. Arsip pers dan terbitan berbahasa Belanda dari era 1930-an menunjukkan bahwa Al Jam'iyatul Washliyah sejak awal tumbuh di tengah masyarakat yang majemuk dan berinteraksi baik dengan berbagai golongan.

Al Washliyah didirikan pada 1930 oleh para pelajar madrasah yang diasuh Syekh Muhammad Yunus di Medan. Ikhtisar pers pribumi yang disusun pemerintah Hindia Belanda (31 Oktober 1936) mencatat, enam tahun kemudian organisasi ini sudah memiliki 33 cabang, sekitar 50 sekolah, dan kurang lebih 5.000 murid, 1.500 di antaranya perempuan.

Sejak 1933, Al Washliyah aktif berdakwah dan membuka sekolah di Tanah Batak, terutama di Porsea.  Tijdschrift voor Zendingswetenschap (1938–1939), mencatat bahwa sekolah di Porsea berada di bawah pengelolaan Al Washliyah Medan. Laporan yang sama menyebut sebuah sekolah umum di Tamboenan, yang juga memberikan pelajaran agama, terbuka pula bagi anak-anak Kristen. Berita serupa dimuat De Indische Courant (20 Februari 1939) yang mengutip harian Sinar Deli.

Kehadiran Al Washliyah di tengah masyarakat yang beragam juga terekam dalam acara keagamaan. Saat utusan Pengurus Besar Al Washliyah, H. Abdul Kadir, berpidato pada peresmian sebuah masjid di Tapanuli pada 1936, laporan pers mencatat masyarakat dari kalangan agama Kristen turut hadir.

Al Washliyah juga dikenal sebagai perekat antargolongan. Pada 1936, pers Islam mengusulkan dewan ulama bersama yang berfungsi sebagai "biro perdamaian", dan Al Washliyah disebut di dalamnya bersama Muhammadiyah, Persis, NU, dan Persyarikatan Ulama. Pada 1939, Ketua Al Washliyah H. Abdurrahman Sjihab ikut dalam pertemuan di Medan yang menjembatani kalangan ulama dan kaum terpelajar berpendidikan Barat.

Semangat melayani sesama itu berlanjut setelah kemerdekaan. Het Nieuwsblad voor Sumatra (13 Januari 1954) mencatat, dari 12 panti sosial swasta terdaftar di Sumatera Utara, empat dikelola Al Washliyah, jumlah terbanyak saat itu.

Wisuda hari ini, dengan lulusan dari beragam agama di dalamnya, menyambung jejak panjang tersebut: pendidikan Al Washliyah hadir untuk mencerdaskan seluruh anak bangsa.***

 

 

Video Terkait: