"Sekolah tidak lagi sekadar mempersiapkan peserta didik untuk menghadapi ujian, tetapi mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan yang bahkan belum kita bayangkan hari ini."
Solo, edukasinews.com-Perubahan dunia berlangsung begitu cepat. Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), otomatisasi, transformasi digital, perubahan iklim, hingga dinamika sosial global telah mengubah cara manusia bekerja, belajar, dan berinteraksi. Profesi yang hari ini menjadi primadona bisa jadi akan tergantikan dalam beberapa tahun mendatang, sementara berbagai pekerjaan baru terus bermunculan dengan tuntutan kompetensi yang berbeda.
Di tengah perubahan tersebut, muncul sebuah pertanyaan mendasar bagi dunia pendidikan: Apakah sekolah sedang mempersiapkan peserta didik untuk masa depan, atau masih mempersiapkan mereka untuk masa lalu?
Pertanyaan ini menjadi landasan lahirnya konsep Future Ready Education, sebuah paradigma pendidikan yang berorientasi pada pengembangan kompetensi masa depan tanpa meninggalkan nilai-nilai karakter, moral, dan kemanusiaan.
Sejalan dengan konsep Future Ready Education, sebanyak lima guru bahasa Inggris dan satu kepala sekolah dari SMP MBS ZamZam Cilongok mengikuti kegiatan pengembangan profesional guru bertajuk "Cambridge Life Skills in Action: Bringing Language Learning and Life Skills Together in the Classroom" yang digelar Cambridge University Press & Assessment, Selasa (28/7/2026). Acara berlangsung di Productive Meeting Room, Harris Hotel Solo.
Keenam perwakilan yang dikirim adalah Fachri Afifudin, S.Pd.; Erna Wahyu Wulandari, S.Pd.; Nurul Faizah, S.Pd.; Jamal Linggar Setiawan, S.Pd.; dan Sri Wahyuningsih, S.Pd.Gr., yang mewakili unsur guru bahasa Inggris, serta Evy Nurhidayati, S.Pd., yang hadir sebagai Kepala SMP MBS Zam-Zam Cilongok.
Kegiatan ini merupakan salah satu support yang diberikan oleh Cambridge University Press & Assessment untuk guru Bahasa Inggris, baik pemula maupun berpengalaman, agar mengeksplorasi bagaimana kurikulum Cambridge Global English dapat memadukan pengembangan bahasa dengan kecakapan hidup (lifeskill) peserta didik. Pemateri utama dari Regional Professional Learning & Development Specialist • Cambridge University Press & Assessment, Deborah Gordon.
Acara berlangsung dalam tiga sesi: eksplorasi pendekatan pembelajaran Cambridge, penguatan praktik pembelajaran bahasa di kelas, serta refleksi dan penerapan kecakapan hidup (lifeskill) dalam pembelajaran sehari-hari.
Selain sesi utama untuk guru, digelar pula sesi khusus bagi para kepala sekolah (leaders) yang menghadirkan narasumber dari Regional Manager South East Asia Pacific (SEAP) Cambridge International Education, Yusuf Seto Wibowo. Dalam paparannya, ia menyampaikan bahwa para pemimpin di setiap era teknologi bukanlah orang paling berbakat, melainkan mereka yang berani melangkah lebih dulu, konsisten berlatih, dan berkarakter untuk mengajak orang lain maju bersama. Ia menegaskan kehadiran AI saat ini adalah momen bagi para pemimpin pendidikan untuk melakukan hal serupa, layaknya sebuah revolusi yang kali ini dapat dikenali sejak dini.
Kepala SMP MBS Zam-Zam Cilongok, Evy Nurhidayati, S.Pd., menyampaikan bahwa keikutsertaan sekolah dalam kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen meningkatkan kompetensi guru dan menyiapkan penerapan konsep Future Ready Education.
"Kami siap menjadi guru yang menyiapkan peserta didik tidak hanya untuk siap ujian, namun untuk siap menghadapi masa depan," ujarnya.
Future Ready Education bukan berarti sekolah harus dipenuhi perangkat teknologi canggih atau seluruh proses pembelajaran dilakukan secara digital. Hakikatnya jauh lebih mendasar, yaitu membangun ekosistem belajar yang membentuk peserta didik menjadi individu yang mampu beradaptasi, berpikir kritis, kreatif, berkolaborasi, mampu memecahkan masalah, serta memiliki karakter yang kuat.*** (pp/EN/HK)








LEAVE A REPLY